PALEMBANG — Kekhawatiran itu diungkapkan langsung oleh Alhafis, salah seorang wali murid, yang mengaku terus memantau perkembangan informasi dari berbagai sumber namun hasilnya tetap nihil. Ia menilai sosialisasi yang dilakukan pemerintah maupun pihak sekolah belum maksimal, baik saat pelaksanaan maupun menjelang pengumuman hasil TKA.
“Sebagai orang tua tentu kami cemas. Anak kami mengikuti jalur prestasi dan hasil TKA sangat menentukan. Tapi dari awal pelaksanaan sampai menjelang pengumuman, informasi yang kami terima masih sangat terbatas,” ujarnya kepada Suara Publik.
Tekanan Mental Orang Tua dan Siswa Meningkat
Menurut Alhafis, persaingan SPMB tahun ini berlangsung semakin kompetitif. Banyak siswa berprestasi dari berbagai sekolah dasar bersaing ketat untuk merebut kursi di SMP negeri unggulan. Situasi itu membuat orang tua tidak hanya fokus pada persiapan akademik anak, tetapi juga harus menghadapi tekanan psikologis selama proses seleksi.
“Setiap hari kami terus memantau informasi. Takut ada perubahan jadwal atau informasi yang terlewat. Orang tua sekarang benar-benar dibuat tegang karena masa depan anak dipertaruhkan dalam proses seleksi ini,” katanya.
Ia menambahkan, percakapan mengenai nilai TKA, peluang lolos, hingga sekolah tujuan kini menjadi topik hangat di kalangan wali murid di sejumlah sekolah dasar di Palembang. Ia mendorong pemerintah dan pihak sekolah agar lebih aktif memberikan informasi yang jelas dan transparan.
“Selaku orang tua berusaha menjaga kondisi psikologis anak kami agar tidak terbebani tekanan berlebihan menjelang pengumuman hasil,” ungkapnya.
Rasa Deg-degan Jelang Pengumuman Juga Dialami Siswa
Kecemasan serupa dirasakan langsung oleh para siswa. Quenna Nailah Maudy, siswi kelas IX SMP Negeri 19 Palembang, mengaku masih menunggu hasil resmi TKA sambil dihantui rasa khawatir menghadapi persaingan masuk SMA negeri tahun ajaran 2026/2027.
“Sekarang masih menunggu hasil nilai TKA. Rasanya deg-degan karena hasil ini sangat menentukan untuk lanjut ke SMA lewat jalur prestasi,” ujarnya.
Menurut Quenna, persaingan masuk SMA negeri favorit tahun ini diperkirakan semakin ketat. Ia telah mempersiapkan diri semaksimal mungkin, mulai dari memperdalam materi pelajaran hingga menjaga kondisi fisik saat ujian. Namun, rasa cemas tetap sulit dihindari menjelang pengumuman.
“Yang dipikirkan sekarang apakah nilainya nanti sesuai harapan atau tidak. Kami semua tentu ingin bisa lolos di sekolah yang diinginkan,” tutupnya.