BATURAJA — Pemkab OKU tidak mau kehilangan varietas unggul daerahnya. Setelah melihat langsung proses perbanyakan bibit di Laboratorium Kultur Jaringan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Yogyakarta, Bupati Teddy Meilwansyah memutuskan untuk menerapkan teknologi serupa di OKU.
Gagasan ini lahir saat kunjungan kerja pada Sabtu (20/6) lalu. Di laboratorium Yogyakarta, Teddy melihat satu bagian kecil jaringan tanaman bisa menghasilkan ratusan bibit baru dengan kualitas seragam dan waktu produksi lebih singkat dibanding metode konvensional.
Durian Tembaga dan Semengok Sakti Jadi Prioritas
Beberapa varietas khas OKU yang terancam punah akan menjadi prioritas pertama. Di antaranya Durian Tembaga, Durian Semengok Sakti, dan sejumlah jenis duku lokal yang jumlahnya mulai berkurang di alam.
"Laboratorium seperti inilah nantinya akan disiapkan di Kabupaten OKU untuk mengembangkan tanaman unggul seperti durian dan duku lokal," kata Teddy di Baturaja, Senin.
Pembangunan fasilitas ini akan dilakukan dengan dukungan dan kerja sama dari Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Yogyakarta. Laboratorium itu nantinya tidak hanya berfungsi sebagai pusat konservasi, tetapi juga membuka peluang peningkatan nilai ekonomi sektor pertanian.
Pekarangan Rumah Bisa Jadi Lahan Produktif
Salah satu skema yang disiapkan adalah penanaman pohon hasil kultur jaringan di lingkungan masyarakat. Program ini rencananya diawali di satu kecamatan terlebih dahulu.
"Setiap rumah berpotensi mendapatkan pohon hasil kultur jaringan. Selain itu, lahan pekarangan sekolah, kantor pemerintah, dan BUMD juga dapat dimanfaatkan," ujar Teddy.
Menurut Teddy, masyarakat tidak perlu memiliki lahan luas. Pekarangan rumah yang tersedia sudah cukup untuk menanam tanaman produktif yang bisa memberikan manfaat ekonomi maupun mendukung kebutuhan pangan keluarga.
Metode Kultur Jaringan: Satu Potong Jaringan, Ratusan Bibit Baru
Teknologi kultur jaringan memungkinkan perbanyakan tanaman dalam jumlah besar tanpa harus menunggu musim berbuah atau bergantung pada biji. Metode ini dinilai sangat potensial untuk mendukung program ketahanan pangan sekaligus melestarikan tanaman unggulan daerah.
"Metode ini sangat luar biasa di mana satu bagian kecil jaringan tanaman mampu menghasilkan ratusan bibit baru," jelas Teddy.
Penerapan program ini direncanakan mulai diterapkan di Kabupaten OKU secara bertahap tahun ini. Dengan adanya fasilitas ini, tanaman khas yang mulai berkurang bahkan terancam hilang dapat dikembangkan kembali.