PALEMBANG — Kenaikan NTP sebesar 5,55 persen dalam sebulan terakhir menjadi sinyal positif bagi sektor pertanian Sumatera Selatan. Angka 149,39 berarti pendapatan petani dari hasil panen tumbuh lebih cepat dibandingkan biaya hidup dan biaya produksi yang harus mereka keluarkan.
BPS mencatat, indeks harga yang diterima petani (It) melesat 6,66 persen sepanjang Juni 2026. Sementara itu, indeks harga yang dibayar petani (Ib) hanya naik 1,05 persen. Selisih inilah yang membuat NTP terdongkrak.
Subsektor Perkebunan Jadi Penopang Utama
Subsektor perkebunan mencatat kenaikan NTP tertinggi, yakni 7,13 persen. Komoditas utama yang mendorong lonjakan ini adalah karet, kopi, lada, dan kakao. Harga komoditas-komoditas tersebut di tingkat petang mengalami penguatan signifikan pada Juni lalu.
Selain komoditas perkebunan, harga gabah, jagung, ketela pohon, tomat, semangka, dan pepaya juga ikut naik. Kondisi ini turut menambah pendapatan petani di beberapa kabupaten/kota di Sumsel.
Biaya Produksi Ikut Naik, Tapi Lebih Landai
Meski pendapatan meningkat, petani tetap harus merogoh kocek lebih dalam untuk kebutuhan produksi. BPS mencatat sejumlah komponen biaya naik, antara lain harga bensin, pupuk urea, pupuk NPK, herbisida, cuka getah, tawas, wadah penampung getah, dan ongkos angkut. Kebutuhan konsumsi rumah tangga seperti bawang merah, bawang putih, dan tomat sayur juga ikut mendorong kenaikan indeks pengeluaran petani.
Namun, laju kenaikan biaya ini masih lebih rendah dibandingkan kenaikan harga hasil panen, sehingga NTP tetap positif.
Empat Subsektor Justru Melemah
Tak semua subsektor bernasib sama. BPS mencatat NTP subsektor tanaman pangan turun 0,27 persen, hortikultura turun 0,65 persen, peternakan turun 1,99 persen, dan perikanan turun 0,90 persen. Subsektor perikanan tangkap melemah 0,79 persen, sementara perikanan budidaya turun lebih dalam, yakni 1,17 persen dibandingkan bulan sebelumnya.
Penurunan di subsektor perikanan dan peternakan mengindikasikan bahwa pemulihan daya beli petani di Sumsel masih tidak merata. Petani di subsektor perkebunan menjadi pihak yang paling diuntungkan pada Juni 2026.
Apa Arti NTP 149,39 bagi Petani Sumsel?
Nilai Tukar Petani merupakan indikator utama kesejahteraan petani. Semakin tinggi angka NTP, semakin besar daya beli petani terhadap barang dan jasa. Dengan capaian 149,39, petani di Sumsel secara rata-rata memiliki surplus pendapatan yang lebih besar untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga dan investasi usaha tani.
Meski demikian, BPS mengingatkan bahwa angka ini adalah rata-rata provinsi. Kondisi di tingkat kabupaten dan subsektor bisa sangat berbeda, terutama bagi petani tanaman pangan dan peternak yang NTP-nya justru menurun.