SUMATERA SELATAN — Jakarta, TAMBANG — Industri hulu minyak dan gas bumi (migas) nasional tengah menghadapi tekanan berat. Di tengah perannya yang masih mendominasi lebih dari 50 persen bauran energi nasional, realisasi produksi minyak bumi saat ini hanya berkisar 580.000 barel per hari (BOPD). Angka ini masih jauh dari target ambisius swasembada energi yang menargetkan produksi 1 juta BOPD pada dekade mendatang.
Direktur Eksekutif ReforMiner Institute Komaidi Notonegoro mengungkapkan, penurunan produksi alamiah (decline rate) dari lapangan eksisting sangat agresif. Data SKK Migas mencatat, rata-rata penurunan produksi minyak nasional periode 2020–2025 mencapai 22,3 persen per tahun. Sementara untuk gas bumi, angka penurunannya mencapai 12 persen per tahun.
Ancaman Defisit dan Beban Impor Raksasa
Jika aktivitas eksplorasi tidak ditingkatkan secara signifikan, defisit antara konsumsi dan produksi minyak nasional pada 2030 diperkirakan mencapai 1,03 juta hingga 1,35 juta BOPD. Komaidi memproyeksikan, beban impor minyak secara kumulatif periode 2026–2030 bisa mencapai US$ 181,3 miliar (Rp 3.043 triliun) pada skenario terbaik, dan membengkak hingga US$ 217,9 miliar (Rp 3.656 triliun) pada skenario terburuk. Angka ini dihitung dengan asumsi harga minyak US$ 90 per barel.
Kondisi ini menjadi ironi karena Indonesia sebenarnya memiliki potensi besar. Dari total 128 cekungan migas yang dimiliki, sekitar 68 cekungan di antaranya belum dieksplorasi secara memadai. Beberapa penemuan skala besar seperti Blok Andaman II, Geng North-1, dan Layaran-1 menunjukkan prospektivitas yang positif, namun realisasi pengeboran eksplorasi masih jauh di bawah target.
Pertamina di Garda Terdepan, Tapi Terancam Penurunan Drastis
Pertamina melalui sub-holding hulu PHE memegang peran krusial sebagai pemasok sekitar 55–56 persen produksi minyak nasional. Namun, tanpa eksplorasi baru dan enhanced oil recovery (EOR), produksi PHE diproyeksikan turun drastis dari 579.000 BOPD pada 2024 menjadi hanya 300.000–350.000 BOPD pada 2030. Bahkan, pada 2035 produksinya bisa anjlok di bawah 160.000 BOPD—penurunan lebih dari 70 persen dalam 11 tahun.
Sebaliknya, jika eksplorasi, EOR, dan transformasi sumber daya berhasil diakselerasi penuh, total produksi Pertamina berpotensi melonjak hingga 850.000–950.000 BOPD pada 2030, dan mencapai 1.345.000 BOPD pada 2035. Untuk mencapai swasembada, diperlukan penambahan minimal 12 struktur eksplorasi minyak dari skenario dasar 215 struktur menjadi 227 struktur.
Kendala Operasional dan Harapan di Balik Angka
Realisasi pengeboran sumur eksplorasi nasional periode 2021–2026 secara konsisten berada di bawah target. Pada 2021, realisasi hanya 28 sumur dari target 41 sumur (68,3 persen). Angka ini sempat membaik pada 2023 dengan 41 sumur dari target 57 sumur (71,9 persen), namun kembali turun pada 2025 menjadi 24 sumur dari target 46 sumur (52,2 persen) per Oktober. Hingga 31 Mei 2026, baru terealisasi 5 sumur dari target 39 sumur (12,8 persen).
Meskipun terkendala, kualitas teknis hulu Indonesia relatif kompetitif. Rasio keberhasilan geologis (geological success ratio) nasional tahun 2020–2024 bergerak di kisaran 52–74 persen, dengan rata-rata 63,2 persen. Berdasarkan laporan IHS Markit per April 2026, indikator aktivitas dan keberhasilan Indonesia di Asia Pasifik menempati peringkat ke-4 dari 15 negara, dengan skor yang naik dari 5,00 pada 2020 menjadi 6,03 pada 2026.
Komaidi menegaskan, eksplorasi migas menjadi kunci utama pencapaian target swasembada energi nasional. Mengingat kontribusi signifikan Pertamina, keberhasilan meningkatkan iklim investasi dan kegiatan eksplorasi migas nasional sebagian besar akan ditentukan oleh kinerja operasional dan finansial perusahaan pelat merah tersebut. Tanpa langkah konkret, mimpi swasembada energi hanya akan menjadi wacana tanpa realisasi.