SUMATERA SELATAN — Pemerintah terus mencari cara agar gejolak nilai tukar rupiah tidak langsung membebani harga BBM di pompa. Salah satu jurus terbaru adalah dengan memberikan izin impor minyak mentah kepada Lemigas, lembaga teknis di bawah Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) yang selama ini lebih dikenal sebagai pusat riset dan pengujian migas.
Wakil Menteri ESDM, Yuliot Tanjung, menjelaskan bahwa skema impor minyak mentah sejatinya tetap bisa dilakukan oleh Pertamina. Namun, dengan adanya regulasi baru, BLU di sektor energi seperti Lemigas kini juga mendapat ruang untuk ikut serta dalam pengadaan crude oil.
"Ini kita akan mengoptimalkan penggunaan BLU yang ada, di antaranya adalah Lemigas. Jadi pengadaan dari Lemigas. Jadi dari regulasi ini bisa melakukan impor," ujar Yuliot di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat (29/5/2026).
Dari Laboratorium Jadi Importir Minyak
Lemigas bukanlah pemain baru di industri migas. Lembaga ini berdiri pada 11 Juni 1965 dan selama puluhan tahun fokus pada penelitian, pengembangan, dan pengujian teknologi minyak dan gas bumi. Kini, dengan pengalaman lebih dari enam dekade, Lemigas didukung 47 laboratorium dan satu laboratorium kalibrasi yang mempekerjakan puluhan tenaga ahli tersertifikasi.
Sejak 1 April 2015, statusnya berubah menjadi BLU penuh. Status ini memberi fleksibilitas lebih besar dalam memberikan layanan kepada publik dan pelaku usaha, baik lewat tender maupun swakelola. Kini, fleksibilitas itu diperluas hingga mencakup impor minyak mentah.
Visi Global dan Jangkauan Layanan
Lemigas menargetkan diri menjadi lembaga pengujian bertaraf internasional di bidang migas. Visi ini didukung oleh misi memberikan masukan kebijakan energi, meningkatkan kualitas jasa pengujian, dan menciptakan produk unggulan untuk industri energi nasional.
Dari sisi layanan, cakupan Lemigas terbilang lengkap. Mulai dari eksplorasi untuk menemukan cadangan migas baru, eksploitasi untuk meningkatkan produksi, hingga pengolahan dan pengujian karakteristik BBM serta produk turunannya. Lembaga ini juga memiliki Lembaga Sertifikasi Produk (LSPro) yang melakukan sertifikasi berbagai produk migas.
Tak hanya itu, Lemigas menyediakan studi teknis dan ekonomi, perhitungan kelayakan proyek, kalibrasi peralatan laboratorium, hingga uji profisiensi untuk laboratorium migas di seluruh Indonesia.
Apa Artinya bagi Masyarakat?
Dengan kewenangan impor ini, Lemigas diharapkan bisa menjadi bantalan tambahan untuk menjaga stabilitas pasokan minyak mentah nasional. Jika pasokan terjaga dan harga impor bisa ditekan, dampaknya secara tidak langsung bisa meringankan beban harga BBM yang dikonsumsi masyarakat.
Pemerintah menilai, mengoptimalkan BLU seperti Lemigas adalah langkah pragmatis di tengah tekanan nilai tukar. Daripada hanya mengandalkan satu pintu impor, membuka keran bagi lembaga teknis yang sudah memiliki infrastruktur dan SDM mumpuni dinilai bisa memperkuat ketahanan energi nasional.
Ke depan, publik akan menanti bagaimana realisasi impor pertama Lemigas dan seberapa besar volume yang bisa dikelola. Yang jelas, lembaga yang lahir di era 1960-an ini kini mendapat peran baru yang jauh lebih strategis: menjadi salah satu penjaga stabilitas energi Indonesia.