PALEMBANG — Kepala Seksi Wilayah II Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Wilayah Sumatera, Didik Suprijono, menyebut ratusan titik panas itu masih termonitor hingga pagi ini. Titik dengan kategori high confidence memiliki tingkat kepercayaan di atas 80 persen sebagai titik api aktif, bukan sekadar anomali panas.
Artinya, ratusan titik di OKI itu dipastikan sebagai lokasi kebakaran hutan dan lahan yang masih menyala. Angka tersebut sejalan dengan akumulasi hotspot Sumsel pada periode 1-16 Oktober 2026 yang mencapai 33.425 titik.
Dari jumlah itu, OKI menjadi penyumbang terbanyak dengan 20.367 titik. Konsentrasi titik api di satu kabupaten itu menjelaskan mengapa asap pekat bergerak ke arah Palembang.
Kabut Sempat Menipis Sehari, Lalu Pekat Lagi
Kabut asap tebal mengepung Palembang pada Minggu pagi setelah sehari sebelumnya sempat menipis berkat operasi modifikasi cuaca. Kondisi itu membuat warga mengira perbaikan cuaca akan bertahan lebih lama.
"Kemarin sehari dua hari cuaca kelihatan cerah, tapi hari ini tebal lagi asapnya," ujar Arinita, warga Palembang yang ditemui di kawasan Stadion Jakabaring.
Di Jakabaring, warga yang berolahraga pagi mengeluhkan mata perih dan sesak napas. Jarak pandang ikut berkurang sehingga aktivitas joging terganggu.
"Kami yang berolahraga sesak napas, jarak pandang kurang, susah lah kami olahraga," kata Arinita.
Jarak Pandang di Gandus Hanya 100 Meter, AQI 163
Keluhan serupa datang dari Perumahan Albarian Gandus. Bau asap menyengat tercium hingga ke dalam rumah, dan jarak pandang di wilayah itu tinggal sekitar 100 meter.
"Ya tebal, saat saya keluar rumah dan mau berjualan asap sangat tebal," kata Yana, warga Perumahan Albarian Gandus. "Mata perih dan sesak napas."
Data live yang dipantau Minggu dini hari hingga pagi mencatat Air Quality Index di Gandus berada di angka 163 dengan kategori tidak sehat dan kondisi smoke. Suhu 27 derajat Celsius, kelembapan 83 persen, serta kecepatan angin hanya 2 km per jam membuat asap mengendap dan tidak bergerak.
Warga lain, Yudi, menyebut kabut sempat menipis pada Sabtu sebelum kembali pekat pagi ini. Ia berharap pemerintah menambah intensitas operasi modifikasi cuaca.
"Kalau menurut aku kabut asap masih ada lagi. Dari pemerintah harus melakukan kegiatan dry ice harus ditambah," kata Medi, warga lainnya.
Warga Minta Sekolah Daring dan ISPA Jadi Perhatian
Arinita menyoroti dampak asap terhadap anak sekolah yang kembali belajar dari rumah. Ia meminta pemerintah bergerak cepat karena warga yang sakit infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) disebutnya sudah bertambah.
"Kasihan anak-anak sekolah daring, tolong segera diatasi, kasihan juga sudah banyak yang sakit ISPA," katanya.
Hingga Minggu pagi, operasi modifikasi cuaca menjadi sandaran utama untuk memecah kabut di atas Palembang. Efektivitasnya bergantung pada kondisi awan dan kecepatan angin yang saat ini sangat lemah.