PALEMBANG — Struktur ekonomi Sumatera Selatan sepanjang tahun 2025 masih berpusat di Kota Palembang dengan kontribusi mencapai 30,83 persen terhadap total PDRB provinsi. Angka ini mengukuhkan posisi Palembang sebagai motor penggerak utama ekonomi di Bumi Sriwijaya dibandingkan 16 kabupaten dan kota lainnya.
Besarnya porsi ekonomi Palembang dipicu oleh perannya yang multifungsi. Sebagai pusat pemerintahan, kota ini juga menjadi titik kumpul aktivitas perdagangan, jasa, pendidikan, hingga sektor transportasi skala regional. Konsentrasi penduduk dan perputaran uang di sektor jasa membuat Palembang tetap kokoh di posisi teratas dalam distribusi harga berlaku tahun ini.
Berbeda dengan Palembang yang mengandalkan sektor jasa, posisi kedua ditempati oleh Kabupaten Muara Enim dengan kontribusi 17,45 persen. Kekuatan ekonomi daerah ini tetap bertumpu pada sektor pertambangan dan energi yang menjadi tulang punggung pendapatan daerah secara konsisten.
Kondisi serupa terlihat pada Kabupaten Musi Banyuasin (Muba) yang berada di peringkat ketiga. Dengan sumbangan sebesar 13,47 persen, ekonomi Muba sangat dipengaruhi oleh fluktuasi dan produktivitas di sektor minyak, gas bumi, serta perkebunan besar.
Gabungan kontribusi dari tiga daerah teratas ini — Palembang, Muara Enim, dan Muba — sudah mencakup lebih dari separuh ekonomi Sumatera Selatan. Hal ini menunjukkan ketergantungan ekonomi provinsi yang masih sangat besar pada sektor jasa perkotaan dan ekstraksi sumber daya alam.
Tren menarik muncul dari wilayah penyangga seperti Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) dan Banyuasin. OKI menempati posisi keempat dengan kontribusi 6,94 persen, sementara Banyuasin mengikuti di angka 5,96 persen. Kedua daerah ini mulai menunjukkan peningkatan peran ekonomi yang signifikan.
Laju pertumbuhan di wilayah tersebut dipicu oleh berkembangnya kawasan industri baru dan perluasan lahan perkebunan. Selain itu, peningkatan konektivitas antarwilayah melalui pembangunan infrastruktur jalan telah memudahkan distribusi logistik, yang secara langsung mengerek nilai PDRB daerah setempat.
Sebaliknya, daerah dengan kontribusi kecil umumnya masih didominasi oleh aktivitas pertanian tradisional dan perdagangan skala lokal. Kota Pagar Alam tercatat memiliki kontribusi paling rendah terhadap PDRB Sumsel dengan angka 0,57 persen.
Berdasarkan data distribusi PDRB tahunan, berikut adalah urutan kontribusi ekonomi daerah di Sumatera Selatan:
Secara keseluruhan, peta ekonomi Sumsel masih menunjukkan ketimpangan antara daerah berbasis industri pengolahan atau jasa dengan daerah yang murni bergantung pada sektor pertanian. Pemerintah daerah kini mulai memfokuskan hilirisasi industri untuk mendongkrak kontribusi daerah-daerah yang selama ini masih berada di papan bawah.