MUI Muara Enim dan PT TEL Sepakati Sinergi Dakwah hingga Sertifikasi Halal UMKM di Kawasan Industri

Penulis: Darmawan Iskandar  •  Kamis, 21 Mei 2026 | 10:26:02 WIB
MUI Muara Enim dan PT TEL sepakat sinergi dakwah dan sertifikasi halal UMKM di kawasan industri.

MUARA ENIM — Pertemuan antara jajaran MUI Muara Enim dan manajemen PT TEL pekan lalu melahirkan sektor kolaborasi yang lebih konkret dari sekadar ceramah di atas mimbar. Di ruang pertemuan kawasan industri tersebut, kedua pihak menyepakati program-program yang menyentuh kebutuhan dasar masyarakat, mulai dari pelatihan juru sembelih halal (Juleha), pengiriman khatib Jumat, hingga pelatihan pengurusan jenazah.

Mengapa Sertifikasi Halal UMKM Menjadi Prioritas

Ketua Umum MUI Muara Enim, Dr KH Solihan, mengatakan bahwa pihaknya ingin memastikan nilai-nilai agama tidak hanya hadir di masjid, tetapi juga di pasar. Salah satu yang ia soroti adalah kebutuhan pendampingan sertifikasi halal bagi pelaku UMKM binaan perusahaan.

“Sekarang masyarakat banyak menggunakan laundry. Maka kita perlu memastikan prosesnya juga memenuhi syarat kesucian dalam Islam. Ini bagian dari kajian fikih kontemporer,” jelas Solihan di hadapan manajemen PT TEL.

Menurutnya, persoalan halal dalam usaha laundry adalah contoh nyata bagaimana fikih kontemporer harus menjawab persoalan sehari-hari. Pakaian yang dipakai untuk salat, kata dia, bukan hanya harus bersih, tetapi juga suci. Proses pencucian, bahan pembersih, hingga tata cara pengelolaannya perlu dikaji secara mendalam.

K3 dalam Perspektif Spiritual

Diskusi yang berlangsung hangat itu juga menyentuh aspek keselamatan kerja. Anggota Dewan Pertimbangan MUI Muara Enim, KH Taufik Hidayat, yang juga pendiri Pondok Pesantren Laa Roiba, menyampaikan pandangan yang tidak biasa dalam forum industri.

“Orang yang bekerja dengan kesadaran bahwa pekerjaannya adalah amanah, akan lebih berhati-hati dan bertanggung jawab,” katanya.

Pernyataan itu menggeser cara pandang terhadap budaya Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) yang selama ini hanya dibangun melalui aturan dan prosedur teknis. Taufik menilai kesadaran spiritual justru bisa menjadi fondasi yang lebih kuat untuk mencegah kecelakaan kerja.

Filosofi Sapu Lidi dan Perekat Kebersamaan

Ketua Umum MUI Muara Enim, Dr KH Solihan, menggambarkan semangat kolaborasi ini dengan filosofi sederhana: sapu lidi. “Satu lidi mudah dipatahkan. Tetapi jika disatukan, ia menjadi kuat. MUI ingin menjadi perekat kebersamaan itu,” ujarnya.

Solihan menekankan bahwa MUI menaungi banyak organisasi Islam, mulai dari Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, hingga Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia. Menurutnya, jika semua elemen ini bergerak bersama, manfaat yang dirasakan masyarakat akan jauh lebih luas.

Respon Perusahaan: Manusia Tetap Butuh Pertolongan Allah

HR & CA Director PT TEL, Mochamad Amrodji, mengakui bahwa di tengah modernisasi industri, kebutuhan terhadap penguatan spiritual justru semakin dirasakan. “Pada akhirnya manusia tetap membutuhkan pertolongan Allah SWT. Karena itu, kami berharap ada penguatan pengetahuan agama, baik di lingkungan perusahaan maupun masyarakat sekitar,” ujarnya.

PT TEL membuka peluang kerja sama lebih luas bersama MUI. Program yang akan segera dijalankan antara lain pelatihan imam dan khatib, pembinaan masjid, serta pendampingan sertifikasi halal bagi UMKM di sekitar wilayah operasional perusahaan.

Audiensi ditutup dengan komitmen bersama untuk memperkuat kolaborasi dalam bidang dakwah, pendidikan umat, ekonomi syariah, serta pembinaan masyarakat. Di luar gedung, aktivitas industri terus berjalan. Namun di dalam ruang pertemuan itu, sebuah gagasan dirawat: bahwa dakwah dan industri tidak harus saling berjauhan.

Reporter: Darmawan Iskandar
Sumber: suarapublik.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top