SUMATERA SELATAN — Ketua Dewan Komisioner LPS Anggito Abimanyu mengungkapkan, secara keseluruhan pertumbuhan simpanan tahunan lintas kelompok masih terjaga di kisaran 0,78% hingga 15,44%. Data tersebut dipaparkan dalam konferensi pers Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) pada Senin (3/8).
"Perlu kami sampaikan bahwa kinerja pertumbuhan simpanan masih terjaga. Untuk seluruh kelompok simpanan atau tiering, per Juni pertumbuhan tahunan simpanan lintas-kelompok tumbuh sekitar 0,78% sampai 15,44%," ujar Anggito.
LPS mencatat kelompok simpanan di atas Rp 5 miliar tumbuh paling tinggi, didominasi oleh peningkatan dana milik korporasi. Kondisi ini berbanding terbalik dengan segmen menengah yang justru mencatat pertumbuhan paling rendah.
Menariknya, segmen ritel kecil justru menunjukkan ketahanan. Simpanan dengan saldo Rp 5 juta hingga Rp 10 juta mencatat pertumbuhan tertinggi di kelompok ritel, yakni 10,01%, disusul saldo di bawah Rp 5 juta yang tumbuh 7,36%.
Di tengah tren pertumbuhan simpanan yang positif, LPS juga menyoroti masih tingginya jumlah penduduk yang belum tersentuh layanan perbankan. Tercatat 46,5 juta orang dari seluruh kelompok usia belum memiliki rekening.
Dari jumlah tersebut, sekitar 15,3 juta orang berada di kelompok usia produktif 15 hingga 70 tahun. LPS memproyeksikan angka ini akan menurun menjadi 13,5 juta orang pada akhir 2026 seiring dengan meningkatnya literasi keuangan dan perluasan akses perbankan digital.
Anggito menegaskan bahwa kemampuan masyarakat untuk menyimpan dana di perbankan masih terjaga. "Hal ini memberikan indikasi bahwa secara rerata agregat kemampuan menabung di semua kelompok masih terjaga lintas waktu," katanya.
Tren pertumbuhan simpanan korporasi yang tinggi ini menjadi sinyal likuiditas dunia usaha masih berlimpah. Namun, melambatnya pertumbuhan di segmen menengah patut menjadi perhatian bagi perbankan dalam menyusun strategi penghimpunan dana pihak ketiga ke depan.