PALEMBANG — Komisi V DPRD Sumatera Selatan akan menggelar rapat dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumsel pada Selasa pekan depan. Agenda utamanya membahas kesiapan pemerintah menghadapi musim kemarau yang diprediksi lebih panjang dari tahun-tahun sebelumnya.
“Karhutla menjadi perhatian khusus Komisi V. Insyaallah pada Selasa nanti kami akan menggelar rapat dengan BPBD Sumsel untuk membahas kesiapan menghadapi musim kemarau,” ujar David, Sabtu (1/8/2026).
Prioritas Pengawasan di OKI, Ogan Ilir, dan Banyuasin
Politisi Partai Golkar itu menyebut sejumlah daerah harus menjadi prioritas pengawasan karena kerap menjadi langganan karhutla. Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Ogan Ilir (OI), dan Banyuasin masuk dalam daftar perhatian khusus.
“Daerah-daerah tersebut harus menjadi prioritas dalam upaya pencegahan dan penanganan karhutla,” katanya.
Anggaran Rp 2 Miliar Dipastikan Tidak Cukup
David mengungkapkan salah satu kendala utama penanganan karhutla adalah keterbatasan anggaran. Pemerintah Provinsi Sumsel baru mengalokasikan sekitar Rp2 miliar untuk penanganan karhutla pada 2026.
“Provinsi Sumsel memang sudah menganggarkan dana sekitar Rp2 miliar untuk penanganan karhutla. Namun persoalan ini tidak bisa ditangani pemerintah provinsi saja. Perlu dukungan pemerintah pusat dan pemerintah kabupaten/kota agar penanganannya lebih optimal,” ujarnya.
BPBD Diminta Respons Cepat Sebelum Api Meluas
David menegaskan bahwa penanganan karhutla tidak bisa dibebankan hanya kepada Pemerintah Provinsi Sumsel. Sinergi antara pemerintah pusat, kabupaten/kota, serta seluruh pemangku kepentingan dibutuhkan agar upaya pencegahan berjalan efektif.
“Kami meminta BPBD segera memetakan daerah-daerah rawan dan melakukan upaya pemadaman sedini mungkin. Jangan sampai api menyebar karena kita sudah memasuki musim kemarau, apalagi BMKG memprediksi musim kemarau tahun ini akan berlangsung lebih panjang,” tegasnya.
Meski kondisi karhutla di Sumsel hingga saat ini masih relatif terkendali, David mengingatkan seluruh pihak agar tidak lengah. Ia menegaskan pencegahan harus menjadi prioritas utama.
“Jangan menunggu kebakaran meluas baru bertindak. Pencegahan harus menjadi prioritas agar Sumsel tidak kembali mengalami bencana asap seperti yang pernah terjadi pada tahun-tahun sebelumnya,” pungkasnya.