Kabut Asap Karhutla Selimuti Palembang, PM2.5 Tembus 514,7 Mikrogram dan Warga Keluhkan Sesak Napas

Penulis: Ferdian Syah  •  Kamis, 15 Oktober 2026 | 12:31:31 WIB
Kabut asap menyelimuti Kota Palembang dan menghalangi pandangan ke arah Jembatan Ampera.

PALEMBANG — Kualitas udara Kota Palembang memburuk seiring kabut asap kiriman dari titik-titik pembakaran lahan. Angka PM2.5 yang tercatat BMKG jauh di atas ambang batas, sementara pandangan ke arah ikon kota, Jembatan Ampera, ikut terhalang asap.

Zainuddin Wahid, warga Kota Palembang, menggambarkan betapa tebal asap yang menyelimuti kota dari atas Jembatan Ampera. Menurut dia, pemandangan kota sama sekali tidak terlihat.

“Bila dilihat dari atas Jembatan Ampera, Kota Palembang tidak nampak, hanya kabut asap yang menyelimutinya,” kata Zainuddin.

Keluhan Warga: Mata Pedih hingga Dada Sesak

Dampak kabut asap tidak berhenti pada gangguan jarak pandang. Zainuddin menyebut warga makin sulit beraktivitas karena udara yang dihirup terasa kotor dan menusuk pernapasan.

“Warga semakin susah, mata pedih, jarak pandang yang terbatas, dada yang sesak karena kotornya udara yang dihirup,” ujarnya.

Keluhan serupa ia sebut muncul di banyak kalangan. Anak-anak, lansia, dan warga dengan riwayat gangguan pernapasan paling rentan terdampak ketika PM2.5 melonjak.

Angka PM2.5 di Stasiun Musi 2 dan Prakiraan Cuaca Selanjutnya

Laporan BMKG pada Rabu (14/10) mencatat konsentrasi PM2.5 di Stasiun Musi 2 Palembang menembus 514,7 mikrogram per meter kubik. Data itu jadi acuan sejumlah pihak untuk mengingatkan warga membatasi aktivitas luar ruang.

Prakiraan cuaca untuk Kamis (15/10) tidak memberi kabar lega. Sejumlah wilayah Sumatera Selatan diprediksi masih panas dan berasap, kondisi yang memperbesar peluang asap bertahan lebih lama di permukaan.

Kritik Warga soal Penanganan Karhutla

Zainuddin merespons langkah pemerintah dalam menangani karhutla. Pemberian hadiah bagi warga yang melaporkan kasus pembakaran lahan dianggap belum menyentuh akar persoalan.

“Sementara pihak pemerintah justru hanya bisa memberikan hadiah bagi siapa saja yang melaporkan kasus pembakaran lahan. Tidak ada solusi yang baik,” ungkapnya.

Ia menilai warga butuh penindakan tegas terhadap pelaku pembakaran lahan, bukan sekadar insentif bagi pelapor. Tanpa itu, kabut asap berpotensi datang kembali setiap musim kemarau.

Harapan Warga di Tengah Kabut yang Belum Surut

Zainuddin juga menyampaikan keprihatinannya lewat sudut pandang keagamaan. Ia mempertanyakan makna bencana asap yang saban hari mengganggu kehidupan warga kota.

“Bahkan mungkin doa yang dilantunkan oleh orang-orang saleh di kota ini, Allah belum menjawabnya. Apakah ini teguran atau azab, wallahu a’lam,” tuturnya.

Hingga kabut asap belum surut, warga Palembang berharap ada langkah konkret yang membuat udara kota kembali bersih dan aktivitas sehari-hari bisa berjalan normal.

Reporter: Ferdian Syah
Sumber: minanews.net This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top