PALEMBANG — Produk kerupuk udang khas Palembang, lada hitam-putih, kelapa segar, biji kopi, hingga arang tempurung kelapa menjadi komoditas yang dibawa empat perusahaan Sumsel ke pasar global. Ketujuh kontrak dagang tersebut merupakan hasil pendampingan ekosistem 100.000 Sultan Muda Sumsel yang dibangun OJK bersama Pemprov Sumsel dan HIPMI Sumsel.
PT Awan Crackers Food Indonesia menjadi perusahaan dengan kontrak terbanyak, yakni tiga perjanjian sekaligus. PT Razade Coconut Indonesia menyusul dengan dua kontrak, sementara PT Fornax Charcoal International dan PT Agri Ekspor Indonesia masing-masing menutup satu kesepakatan.
PT Awan Crackers Food Indonesia melepas kerupuk udang sebanyak 25 ton per bulan senilai Rp11,3 miliar per tahun ke Tiongkok. Perusahaan yang sama juga mengekspor lada hitam-putih senilai Rp15 miliar per tahun ke Taiwan, serta kerupuk senilai USD1 juta per tahun ke Tiongkok.
PT Razade Coconut Indonesia mengamankan dua kontrak kelapa segar dengan total nilai USD9 juta per tahun dari dua raksasa pangan Tiongkok. PT Fornax Charcoal International menggandeng pembeli asal Rusia, Urus Ltd, untuk arang tempurung kelapa senilai USD5 juta.
PT Agri Ekspor Indonesia melengkapi daftar lewat ekspor biji kopi ke Rusia senilai USD523.392. Seluruh penandatanganan kontrak berlangsung di ajang pameran dagang terbesar Indonesia tersebut.
Kepala OJK Provinsi Sumsel, Arifin Susanto, menegaskan capaian ini bukan kebetulan. Menurutnya, hasil tersebut lahir dari sinergi yang dibangun OJK, Pemprov Sumsel, dan HIPMI Sumsel dalam ekosistem 100.000 Sultan Muda Sumsel.
"Ini bukti pengusaha muda Sumsel punya daya saing global. Kolaborasi kami bukan hanya soal promosi, tapi membangun kapasitas, menjaga kualitas pasokan, hingga memastikan akses pembiayaan dari industri jasa keuangan itu ada dan tepat sasaran," ujar Arifin.
Dalam ekosistem itu, Pemprov Sumsel melalui Dinas Perdagangan bertugas membuka pintu pasar. OJK dan perbankan memastikan urusan modal dan keuangan beres, sementara HIPMI merajut jejaring bisnis. Sultan Muda Sumsel Center menjadi markas kolaborasi ketiga pihak.
Pekerjaan rumah berikutnya tidak kalah berat, yakni mengubah potensi Rp306,34 miliar di atas kertas menjadi devisa nyata. Kuncinya ada pada konsistensi kualitas, kepastian pasokan, dan realisasi ekspor berkelanjutan.
Keempat perusahaan kini dituntut menjaga standar produksi agar kontrak dengan pembeli Tiongkok, Taiwan, dan Rusia berjalan sesuai jadwal. Pemerintah provinsi dan OJK disebut akan terus mendampingi proses realisasi ekspor tersebut.