PALEMBANG — Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan kini tengah memacu delapan pemerintah kabupaten dan kota untuk segera menaikkan status kesiapsiagaan menghadapi ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Instruksi ini merujuk pada arahan pemerintah pusat melalui Kementerian Lingkungan Hidup guna mengantisipasi potensi lonjakan titik panas di wilayah rawan.
Kepala Pelaksana BPBD Sumatera Selatan, M Iqbal Alisyahbana, mengungkapkan bahwa penetapan status ini sangat krusial sebagai payung hukum pengerahan sumber daya. Hingga pekan kedua Mei, masih ada delapan daerah yang belum meresmikan status siaga meski wilayahnya masuk dalam zona merah kerawanan kebakaran.
Daftar 8 Daerah yang Belum Tetapkan Status Siaga Karhutla
Berdasarkan data BPBD Sumsel, delapan daerah yang menjadi perhatian khusus tersebut tersebar di wilayah timur hingga ke ujung barat provinsi. Berikut adalah daftar daerah yang ditargetkan merampungkan administrasi status siaga sebelum bulan Juni:
- Kabupaten Banyuasin
- Kabupaten Musi Rawas
- Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara)
- Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI)
- Kabupaten Lahat
- Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU)
- Kabupaten OKU Timur
- Kabupaten OKU Selatan
"Ada arahan pemerintah pusat melalui Kementerian Lingkungan Hidup agar daerah-daerah yang rawan karhutla segera menetapkan status siaga. Di Sumsel masih ada 8 daerah rawan lagi yang belum menetapkan status siaga," ujar Iqbal, Sabtu (9/5/2026).
Mengapa Penetapan Status Harus Tuntas pada Mei Ini?
Target penyelesaian status siaga pada Mei 2026 bukan tanpa alasan. Pemerintah ingin memastikan seluruh perangkat penanggulangan bencana, mulai dari tim patroli terpadu hingga sosialisasi ke tingkat desa, sudah bergerak lebih awal sebelum lahan mengering total.
Iqbal menekankan bahwa koordinasi antarwilayah akan jauh lebih efektif jika status hukum kebencanaan sudah jelas. Hal ini berkaitan dengan kemudahan akses anggaran, mobilisasi personel, hingga penggunaan peralatan pemadaman milik instansi lintas sektor di masing-masing wilayah.
"Agar mempermudah koordinasi dan penanggulangan bencana karhutla di wilayah masing-masing. Kita harapkan Mei ini sudah semua menetapkan status siaga karhutla," jelas Iqbal.
Dukungan 5 Helikopter dan Operasi Modifikasi Cuaca
Sebagai bentuk keseriusan, pemerintah pusat mulai menyalurkan bantuan sarana pemadaman udara. Sumsel dijadwalkan menerima dukungan total lima unit helikopter yang akan datang secara bertahap ke pangkalan udara di Palembang untuk menjangkau titik api di lahan gambut maupun mineral.
"Dukungan satgas udara di awal akan ada bantuan dari BNPB 4 unit helikopter water bombing dan 1 helikopter patroli. Jumlah unit helikopter ini akan menyesuaikan dengan kondisi karhutla Sumsel," ungkapnya.
Selain armada udara, upaya pencegahan dini juga dilakukan melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Sejak 5 Mei kemarin, tim sudah mulai memantau potensi awan hujan di langit Sumatera Selatan. Operasi ini direncanakan berlangsung selama 10 hari untuk membasahi lahan gambut sebelum memasuki fase kemarau kering.
Perhatian khusus terhadap kondisi di Sumsel ini juga merupakan tindak lanjut dari atensi Presiden Prabowo. Iqbal menyebut Menko Polkam Djamari Chaniago telah menginstruksikan agar seluruh daerah tidak lengah, mengingat dampak karhutla yang bisa meluas hingga ke sektor ekonomi dan kesehatan masyarakat.