Pencarian

PLN EPI Kembangkan Ekosistem Bioenergi dari Potensi Biomassa 83,4 Juta Ton

Minggu, 01 November 2026 • 08:20:01 WIB
PLN EPI Kembangkan Ekosistem Bioenergi dari Potensi Biomassa 83,4 Juta Ton
PLN EPI memetakan potensi biomassa nasional mencapai 83,4 juta ton per tahun sebagai basis pengembangan ekosistem bioenergi.

SUMATERA SELATAN — PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) memetakan potensi biomassa nasional mencapai 83,4 juta ton per tahun sebagai basis pengembangan ekosistem bioenergi. Sumatra menjadi wilayah dengan cadangan bahan baku terbesar, yakni 42,8 juta ton per tahun, jauh di atas Kalimantan dan Jawa. Perusahaan menyiapkan jaringan sub-hub hingga main hub untuk memastikan pasokan biomassa sampai ke pembangkit.

Direktur Biomassa PLN EPI Hokkop Situngkir menyampaikan pemetaan tersebut dalam forum Biomass, Biochar, Biogas & SAF Asia Summit 2026 – Indonesia Focus. Menurut dia, besarnya potensi bahan baku belum otomatis menjadi pasokan siap pakai karena jarak antara sumber biomassa dan lokasi pengguna menentukan biaya transportasi sekaligus kesinambungan pasokan.

"Indonesia memiliki potensi dan kebutuhan bioenergi yang besar. Karena itu, kita perlu memperluas kolaborasi untuk mengembangkan fasilitas produksi dan membangun ekosistem yang mampu menyalurkan biomassa kepada pembangkit," ujar Hokkop, dikutip Sabtu (31/10/2026).

Sumatra Kuasai Separuh Potensi Biomassa Nasional

Pemetaan PLN EPI menempatkan Sumatra sebagai pemasok terbesar dengan potensi sekitar 42,8 juta ton per tahun. Kalimantan menyusul di posisi kedua dengan 18,9 juta ton, lalu Jawa 13,1 juta ton. Sisanya tersebar di Sulawesi, Papua dan Maluku, serta Bali dan Nusa Tenggara.

Bahan baku berasal dari lima sumber utama: residu kelapa sawit, limbah kayu, sekam padi, residu pertanian, dan limbah agroindustri. Keragaman sumber itu membuat strategi pengumpulan tidak bisa diseragamkan antarwilayah.

Sub-hub hingga Main Hub Jadi Kunci Rantai Pasok

PLN EPI membangun fasilitas berjenjang berupa sub-hub, hub, dan main hub. Fungsinya mulai dari pengumpulan bahan baku di tingkat lokal, pengolahan, penyimpanan, pengendalian kualitas, hingga distribusi ke pembangkit.

Perusahaan juga mendigitalisasi rantai pasok untuk meningkatkan transparansi, keterlacakan, dan efisiensi operasional. Langkah ini penting karena biomassa bersifat musiman dan volumenya menyusut drastis jika penanganan pascapanen lambat.

Peluang Bisnis saat Kebutuhan Pasar Belum Terbentuk

Hokkop menyebut ada celah bisnis ketika permintaan pasar belum tersedia. Dalam kondisi itu, PLN EPI menilai pelaku usaha bisa menciptakan kebutuhan sendiri melalui pengembangan fasilitas produksi dan diversifikasi produk turunan.

Diversifikasi yang dimaksud mencakup biochar, biogas, hingga bahan bakar penerbangan berkelanjutan atau SAF. Ketiga produk itu membuka jalur pendapatan di luar pasokan biomassa untuk pembangkit listrik.

Apa Artinya bagi Pelaku Usaha dan Investor

Bagi pemasok lokal, jaringan hub membuka akses ke pembeli skala besar tanpa harus membangun logistik sendiri. Bagi investor, nilai ekonominya bergantung pada biaya pengumpulan per ton di tiap wilayah, yang sangat dipengaruhi jarak dan kepadatan sumber bahan baku.

Sumatra dan Kalimantan dengan volume besar berpeluang lebih cepat mencapai skala ekonomi. Wilayah dengan potensi kecil seperti Bali dan Nusa Tenggara menghadapi tantangan biaya per ton lebih tinggi, sehingga butuh model pengumpulan berbeda.

PLN EPI belum merinci nilai investasi maupun target volume pasokan dalam pemaparan tersebut. Namun arah kebijakannya jelas: membangun rantai pasok biomassa yang ekonomis sebelum menambah kapasitas produksi.

Follow palembangtoday.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: ekbis.sindonews.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks