Pencarian

Anak Terlalu Dewasa dan Penurut Sejak Kecil: Dampak Psikologis Saat Besar

Minggu, 01 November 2026 • 13:19:01 WIB
Anak Terlalu Dewasa dan Penurut Sejak Kecil: Dampak Psikologis Saat Besar
Anak yang selalu penurut dan tidak merepotkan dapat mengalami parentification, yakni mengambil peran yang seharusnya menjadi tanggung jawab orang tua.

SUMATERA SELATAN — Anak yang selalu dipuji karena penurut dan tidak merepotkan sering dianggap lebih matang dari usianya. Psikolog Ahona Guha menyebut pola ini sebagai parentification, dan dampaknya bisa terasa hingga dewasa. Berikut empat hal yang perlu ibu ketahui tentang anak yang terlalu cepat dewasa.

Psikolog klinis dan forensik Ahona Guha menjelaskan bahwa anak yang mengalami parentification kerap dipuji karena dianggap bijaksana dan lebih matang dibandingkan usianya. Padahal, di balik pujian itu, mereka bisa kehilangan kesempatan menjalani pengalaman masa kecil seperti bermain bebas dan membangun persahabatan dengan teman sebaya.

Parentification adalah kondisi ketika anak mengambil peran yang seharusnya menjadi tanggung jawab orang tua, baik merawat secara fisik maupun memberi dukungan emosional. Terapis pernikahan dan keluarga berlisensi Annie Wright menambahkan bahwa anak dalam kondisi ini belajar sejak dini bahwa kebutuhan dan keinginan mereka tidak sepenting kebutuhan orang-orang yang merawatnya.

Tidak semua anak yang terlihat dewasa mengalami parentification. Namun, kebiasaan selalu mudah diatur, berguna, dan tidak banyak menuntut bisa terbawa sampai dewasa.

1. Sulit Menikmati Momen Santai dan Bermain

Anak yang sejak kecil terbiasa menjadi sosok paling dewasa bisa kesulitan menikmati aktivitas tanpa tujuan atau tanggung jawab ketika besar. Saat menghadiri pesta bersama teman, misalnya, mereka cenderung mengambil peran membantu tuan rumah, merapikan barang, atau memastikan semua orang nyaman.

Ketika diminta ikut bermain, menari, atau melakukan hal spontan bersama kelompok, mereka justru merasa canggung. Masa kecil yang lebih banyak diisi tanggung jawab dibandingkan permainan bebas membuat mereka tidak terbiasa dengan situasi seperti itu.

Psikolog Peter Gray dari Boston College dalam makalahnya yang terbit di American Journal of Play pada 2011 menjelaskan bahwa permainan bebas bersama anak lain adalah salah satu cara utama anak belajar membangun persahabatan, berinteraksi setara, dan mengatur emosi.

2. Canggung dalam Situasi Sosial yang Tidak Terduga

Anak yang terbiasa penurut dan bertanggung jawab biasanya nyaman ketika memiliki tugas yang jelas. Mereka bisa berbicara lancar dalam percakapan satu lawan satu atau menjalankan tanggung jawab di depan banyak orang.

Namun, ketika berada dalam kelompok yang mulai bercanda, bermain spontan, atau menari bersama, mereka merasa tidak nyaman. Ini bukan berarti mereka tidak menyukai orang lain, melainkan belum terbiasa bersikap santai tanpa memikirkan tanggung jawab.

Psikolog pendidikan Anthony Pellegrini dalam laporan Scientific American mengenai penelitian bermain menjelaskan bahwa kemampuan sosial anak tidak hanya terbentuk lewat arahan orang dewasa. Anak juga mempelajarinya dengan bernegosiasi dan berinteraksi langsung bersama teman sebaya.

3. Berisiko Mengalami Kecemasan Saat Dewasa

Pengalaman menjadi anak yang terlalu cepat mengambil tanggung jawab juga berkaitan dengan kondisi psikologis saat tumbuh dewasa. Sebuah meta-analisis tahun 2011 yang dipimpin Lisa Hooper menggabungkan hasil dari 12 penelitian dengan hampir 2.500 partisipan.

Hasilnya menunjukkan bahwa parentification pada masa kecil berkaitan dengan masalah psikologis saat dewasa, termasuk kecemasan. Temuan ini memperkuat pentingnya memberi anak ruang untuk menjalani perannya sesuai usia.

4. Anak Tetap Bisa Belajar Lebih Santai

Kabar baiknya, pengalaman masa kecil yang terlalu penuh tanggung jawab bukan akhir segalanya. Anak dan orang tua bisa sama-sama belajar menyeimbangkan peran, termasuk memberi ruang untuk bermain tanpa tujuan dan bersantai bersama teman sebaya.

Mulailah dari hal kecil di rumah: biarkan anak memilih permainan yang ia sukai tanpa harus berguna, dan tahan keinginan memuji anak hanya karena ia "tidak merepotkan".

Kapan Perlu Konsultasi ke Psikolog

Bila ibu melihat anak terus-menerus mengesampingkan kebutuhannya sendiri, mudah cemas, atau sulit menikmati waktu bermain, pertimbangkan berkonsultasi dengan psikolog anak. Pendampingan profesional bisa membantu memetakan pola asuh dan memberi anak ruang tumbuh sesuai usianya.

Menjadi anak yang penurut bukan hal buruk. Yang perlu dijaga adalah keseimbangan agar anak tetap punya ruang bermain, bersosialisasi, dan mengekspresikan kebutuhannya tanpa rasa bersalah.

Follow palembangtoday.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: haibunda.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks