MUARA ENIM — Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Muara Enim memetakan hampir seluruh wilayah administrasinya rentan terbakar. Kepala Pelaksana BPBD Muara Enim Abdurrozieq Putra mengungkapkan, status siaga darurat karhutla resmi berlaku mulai 1 Mei hingga 31 Agustus 2026.
Keputusan ini diambil sebagai langkah antisipasi terhadap kemarau panjang yang diprediksi meningkatkan titik api. Data BPBD mencatat, sepanjang 2024 hingga 2025, sekitar 40 hektare lahan di Muara Enim sudah terbakar.
Wilayah Mana Saja yang Paling Rawan?
Kecamatan Gelumbang menjadi daerah dengan titik hotspot terbanyak dalam dua tahun terakhir. Selain Gelumbang, BPBD mendata 18 kecamatan lain yang juga masuk kategori rawan, di antaranya Muara Belida, Lawang Kidul, Tanjung Agung, Belida Darat, Kelekar, Lembak, Lubai, Lubai Ulu, dan Rambang.
Daftar itu juga mencakup Kecamatan Empat Petulai Dangku, Belimbing, Gunung Megang, Ujan Emas, Panang Enim, Sungai Rotan, serta tiga kecamatan di kawasan Semende: Semende Darat Ulu, Semende Darat Tengah, dan Semende Darat Laut.
Kenapa Lahan di 19 Kecamatan Ini Mudah Terbakar?
Abdurrozieq menjelaskan, sebagian besar wilayah tersebut masih ditutupi lahan gambut dan organik. Kondisi ini diperparah oleh keberadaan lokasi pertambangan yang berdekatan dengan area pemukiman dan perkebunan warga.
"Daerah-daerah ini dipetakan rawan terjadi karhutla karena masih banyak terdapat lahan gambut dan organik serta dekat dengan lokasi pertambangan yang mudah terbakar saat kemarau panjang melanda," kata Abdurrozieq saat dihubungi dari Baturaja, Jumat.
Langkah Penanganan: Posko Aktif dan Larangan Membakar Lahan
BPBD Muara Enim mengaktifkan kembali posko penanggulangan bencana di setiap kecamatan. Posko ini diisi oleh personel BPBD yang dibantu masyarakat peduli api untuk memantau titik panas secara berkala.
"Posko penanggulangan bencana ini diaktifkan kembali agar peristiwa karhutla dapat ditanggulangi sedini mungkin," ujarnya.
Masyarakat diimbau tidak membuka lahan pertanian dengan cara dibakar. Kebiasaan ini dinilai menjadi pemicu utama meluasnya kebakaran yang berujung pada bencana kabut asap lintas wilayah.