Aplikasi pertama yang diganti adalah manajer kata sandi. Layanan seperti 1Password atau Dashlane mematok harga 3-5 dolar per bulan. Alternatif self-hosted seperti Vaultwarden — versi ringan dari Bitwarden — bisa dijalankan gratis tanpa batasan jumlah akun.
Untuk penyimpanan cloud, layanan seperti Dropbox atau Google Drive versi berbayar mencapai 10-20 dolar per bulan. Nextcloud menjadi solusi self-hosted yang menawarkan fitur sinkronisasi file, kalender, kontak, hingga kolaborasi dokumen — semuanya tanpa biaya langganan.
Layanan streaming musik seperti Spotify Premium atau Apple Music juga bisa ditinggalkan. Navidrome atau Jellyfin memungkinkan pengguna memutar koleksi musik dan video pribadi dari server sendiri. Hasilnya: tidak ada iklan, tidak ada batasan skip, dan tidak ada pembayaran bulanan.
Password Manager dan RSS Reader Juga Bisa Self-Hosted
Aplikasi keempat adalah pembaca RSS. Layanan seperti Feedly Premium berbayar 6-12 dolar per bulan. Miniflux atau Tiny Tiny RSS menyediakan fungsionalitas serupa secara gratis — pengguna hanya perlu mengatur server dan database sendiri.
Terakhir, aplikasi pencatat. Evernote atau Notion versi premium bisa menghabiskan 5-10 dolar per bulan. Alternatif self-hosted seperti Joplin yang disinkronkan melalui Nextcloud, atau Trilium Notes, memberikan kontrol penuh atas data catatan pribadi tanpa khawatir batasan jumlah perangkat.
Biaya Awal vs Penghematan Jangka Panjang
Meski gratis secara lisensi, self-hosting tetap membutuhkan investasi awal. Pengguna perlu membeli perangkat keras — bisa mulai dari Rp 500 ribuan untuk Raspberry Pi, hingga beberapa juta untuk NAS dengan kapasitas besar. Belum lagi konsumsi listrik dan waktu untuk konfigurasi.
Namun, untuk pengguna yang merasa nyaman dengan teknologi, penghematan tahunan hingga Rp 38 juta jelas sepadan. Ditambah lagi, data pribadi tetap berada di dalam kendali penuh — tidak ada risiko kebocoran dari server pihak ketiga.
Di Indonesia, tren self-hosting mulai dilirik oleh komunitas penggemar teknologi dan pengguna yang sadar privasi. Beberapa forum dan grup Telegram bahkan sudah saling berbagi tutorial instalasi. Meski belum sepopuler di luar negeri, potensi penghematannya jelas relevan di tengah kenaikan harga layanan digital.