SUMATERA SELATAN — Harga Pertamax (RON 92) kini dibanderol Rp 16.250 per liter, naik dari sebelumnya Rp 12.300. Sementara Pertamax Green (RON 95) melonjak dari Rp 12.900 menjadi Rp 17.000 per liter. Kenaikan serentak ini berlaku di seluruh SPBU tanah air.
VP Commercial & Shipping Business Development Pertamina Patra Niaga, Sigit Setiawan, menjelaskan bahwa harga BBM RON 92 di pasar internasional saat ini sudah berada di kisaran Rp 20 ribu hingga Rp 21 ribu per liter. "Itu yang menjadi salah satu alasan penyesuaian harga," ujarnya.
Singapura Paling Mahal, Indonesia di Kelas Menengah Bawah
Berdasarkan data lembaga pemantau globalpetrolprice per Juli 2026, harga BBM di Indonesia setelah penyesuaian masih tergolong kompetitif di kawasan. Singapura menjadi negara termahal karena seluruh produk dijual tanpa subsidi. Di jaringan ritel seperti ESSO dan Shell, RON 92 mencapai S$ 3,43 atau setara Rp 47.746 per liter.
Myanmar dan Laos juga mencatat harga lebih tinggi dari Indonesia. Bensin Octane 92 di Myanmar berkisar Rp 37.000-Rp 40.000 per liter, sementara Gasoline 95 di Laos dipatok Rp 31.500-Rp 32.300 per liter. Thailand menjual Gasohol 91 seharga Rp 23.300 per liter, dan Filipina memasang Unleaded 91 di kisaran Rp 23.300-Rp 25.300 per liter.
Vietnam dan Kamboja Paling Murah, Ini Datanya
Di posisi lebih rendah, Kamboja menetapkan Gasoline 92 sebesar 4.700 riel atau setara Rp 20.960 per liter. Sementara Indonesia berada di lini tengah bawah dengan Pertamax Rp 16.250 dan Pertamax Green Rp 17.000 per liter. Untuk varian high-end, Pertamax Turbo (RON 98) dijual Rp 20.750 per liter, Dexlite Rp 23.000, dan Pertamina Dex Rp 24.800 per liter.
Vietnam menjadi yang termurah di ASEAN untuk jenis bensin oktan tinggi, meski data lengkapnya belum dirilis dalam publikasi terbaru. Timor Leste menyerahkan harga pada mekanisme pasar, dengan bensin dijual US$ 1,34-US$ 1,50 per liter atau sekitar Rp 24.000-Rp 26.900.
Mengapa Harga BBM Antarnegara Bisa Beda Jauh?
Disparitas harga BBM di ASEAN mencerminkan kombinasi kebijakan fiskal, tingkat ketergantungan impor, dan daya beli masyarakat. Negara dengan sistem pasar bebas murni seperti Singapura membiarkan harga mengikuti bursa internasional. Sebaliknya, negara berkembang cenderung memberikan bantalan proteksi melalui subsidi dan pajak karbon yang lebih rendah.
Kenaikan harga Pertamax kali ini menjadi pengingat bahwa Indonesia masih bergantung pada dinamika energi global. Konflik di Timur Tengah yang menghambat distribusi minyak melalui Selat Hormuz menjadi pemicu utama lonjakan biaya energi dunia belakangan ini.