SUMATERA SELATAN — Laga perempat final di Devonshire Park Lawn Tennis Club berjalan ketat sejak awal. Janice/Chong sempat kesulitan di set pertama setelah kehilangan servis pada gim pertama dan ketiga. Meski mampu menyamakan skor 4-4 lewat dua gim beruntun, mereka kembali kehilangan momentum dan menyerah 4-6.
Set Kedua: Kebangkitan dan Pukulan Agresif Janice/Chong
Memasuki set kedua, duet Indonesia-Hong Kong mengubah pendekatan. Mereka tampil lebih agresif dan saling bertukar break dengan lawan di awal set. Momen krusial terjadi pada gim kedelapan saat Janice/Chong berhasil mematahkan servis Haverlag/Lumsden untuk unggul 5-3.
Keunggulan itu mereka pertahankan hingga menutup set kedua dengan skor 6-3. Pertandingan pun dipaksa berlanjut ke set penentuan yang menggunakan format super tie-break.
Tie-Break: Tiga Poin Beruntun yang Menentukan
Set ketiga berlangsung alot. Kedua pasangan saling mematahkan servis hingga skor imbang 6-6. Tie-break pun menjadi penentu nasib mereka. Janice/Chong sempat memberikan perlawanan sengit dan menyamakan kedudukan 7-7.
Namun, Haverlag/Lumsden menunjukkan ketenangan di poin-poin kritis. Pasangan Belanda-Inggris itu merebut tiga poin beruntun untuk mengunci kemenangan 10-7 sekaligus tiket ke semifinal.
Statistik: Efektivitas Break Point Jadi Pembeda
- Konversi Break Point: Haverlag/Lumsden memanfaatkan empat dari tujuh peluang (57%), sementara Janice/Chong mencatat empat break dari enam kesempatan (67%).
- Total Poin: Pasangan lawan mengumpulkan 66 poin, unggul tipis dari 61 poin milik Janice/Chong.
- Servis Kunci: Kehilangan servis di momen genting set pertama dan tie-break menjadi faktor krusial yang menghambat langkah Janice/Chong.
Hasil ini menjadi pukulan telak bagi Janice yang sebelumnya juga terhenti di babak pertama sektor tunggal. Unggulan keenam itu kalah dari Caty McNally (Amerika Serikat) dalam laga tiga set yang berlangsung lebih dari tiga jam, 5-7, 7-6(5), 3-6.