SUMATERA SELATAN — Sepanjang 2025, lima unit pembangkit di Area Kamojang berhasil memproduksi listrik sebesar 1.806,41 gigawatt hour (GWh). Angka ini menjadi yang tertinggi di antara seluruh Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) yang dikelola PGE. Dengan kapasitas terpasang 235 megawatt (MW), PLTP ini mampu menerangi lebih dari 260.000 keluarga setiap harinya.
Pencapaian ini bukan kebetulan. Selama tiga tahun berturut-turut, PLTP Kamojang mencatatkan all time high produksi listrik. Muhammad Baron, Vice President Corporate Communication Pertamina, menyebut perjalanan ini sebagai bukti bahwa energi bersih bisa menjadi fondasi ketahanan energi.
“Panas bumi menjadi salah satu bukti nyata perjalanan panjang energi bersih Indonesia. Potensinya yang ditemukan di Kamojang pada 1926 kemudian dilanjutkan pengembangannya oleh Pertamina melalui operasional PLTP Kamojang sejak 1983,” ujar Baron dalam keterangan resmi, Senin (29/6).
Dari Era Fosil ke Masa Depan Hijau, Kamojang Jadi Bukti Nyata
Cerita Kamojang dimulai hampir seabad lalu. Pada 1926, para peneliti menemukan potensi panas bumi di kawasan ini. Namun, baru pada 1983 PLTP Kamojang mulai beroperasi secara komersial — saat energi fosil masih mendominasi. Keputusan Pertamina untuk membangun pembangkit panas bumi di masa itu kini terbukti strategis.
Baron menambahkan, panas bumi berperan sebagai baseload energi bersih yang stabil. Sumber ini menjadi andalan untuk meningkatkan porsi energi baru terbarukan (EBT) dalam bauran energi nasional. “Hal ini merupakan salah satu bagian dari strategi pertumbuhan ganda Pertamina,” jelasnya.
Dari sisi lingkungan, keandalan operasi PLTP Kamojang memangkas emisi karbon hingga 1,22 juta ton CO? per tahun. Angka ini setara dengan penanaman jutaan pohon dan menjadi kontribusi nyata menuju target Net Zero Emission (NZE) Indonesia pada 2060.
Manfaat Berganda: Listrik Stabil Plus Dampak Ekonomi ke Warga Sekitar
Pengembangan panas bumi di Kamojang tidak hanya soal listrik. Manda Wijaya Kusuma, Pjs. General Manager PGE Area Kamojang, menegaskan bahwa operasional pembangkit harus berjalan seiring dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat di sekitar wilayah operasi.
“Capaian ini menjadi semangat bagi PGE untuk terus mengelola aset panas bumi secara optimal. Keandalan tersebut tidak terlepas dari pengelolaan aspek operasi, keselamatan, keandalan aset, serta integritas dalam menjalankan seluruh proses bisnis,” tutup Manda.
Dengan produksi yang terus meningkat dan dampak lingkungan yang terukur, Kamojang menjadi contoh bahwa energi panas bumi bisa menjadi solusi jangka panjang — bukan hanya untuk penerangan, tapi juga untuk ekonomi masyarakat dan masa depan iklim Indonesia.