Pencarian

Tes Air Liur untuk Deteksi Tumbuh Kembang Anak, Solusi Aman Tanpa Rontgen

Jumat, 31 Juli 2026 • 08:29:01 WIB
Tes Air Liur untuk Deteksi Tumbuh Kembang Anak, Solusi Aman Tanpa Rontgen
Guru Besar Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Airlangga, Prof Dr Sindy Cornelia Nelwan, memaparkan riset pemanfaatan hormon DHEA-S dalam air liur untuk deteksi tumbuh kembang anak secara non-invasif.

SUMATERA SELATAN — Selama ini, untuk mengetahui waktu tumbuh gigi atau kematangan tulang anak, dokter sering mengandalkan foto rontgen. Namun, paparan radiasi pada anak-anak memang perlu diminimalkan sebisa mungkin.

Guru Besar Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Airlangga, Prof Dr Sindy Cornelia Nelwan drg SpKGA K-KGA, menemukan cara baru yang lebih aman. Lewat risetnya, beliau memanfaatkan hormon Dehydroepiandrosterone Sulfate atau DHEA-S yang ada di dalam air liur anak.

“Dengan kita pakai hormon yang ada di air liur ini, penelitian bisa berlangsung secara non-invasif. Biasanya kalau kita mau lihat giginya kapan tumbuh, kita foto rontgen, namun itu kan ada paparan radiasi yang ingin kita hindari pada anak-anak,” ujar Prof Sindy.

Hormon DHEA-S Jadi Penanda Kematangan Tubuh

Hormon DHEA-S diproduksi oleh kelenjar adrenal dan kadarnya meningkat seiring proses pematangan tubuh anak. Dengan mengukur kadar hormon ini dalam air liur, dokter bisa memprediksi kapan gigi anak akan tumbuh tanpa perlu melakukan rontgen.

Metode ini sangat cocok untuk anak-anak, termasuk mereka yang memiliki kondisi khusus seperti Down Syndrome. Proses pengambilan sampel air liur jauh lebih nyaman dan tidak menakutkan dibandingkan harus duduk diam saat foto rontgen.

Mimpi Besar: Kit Deteksi Mandiri Seperti Tes Kehamilan

Riset ini tidak berhenti di laboratorium. Prof Sindy memiliki target untuk mengembangkan alat ukur mandiri berupa diagnostic kit yang praktis.

“Sebetulnya riset ini mau diarahkan untuk membuat diagnostic kit, yaitu alat yang bisa dipakai langsung oleh praktisi di lapangan seperti tes kehamilan. Begitu air liurnya diteteskan, kita bisa langsung melihat dan memprediksi kapan gigi anak akan tumbuh. Namun, memang prosesnya masih agak panjang karena kita mesti membuat alatnya terlebih dahulu,” tutur Prof Sindy.

Jika berhasil, alat ini akan sangat membantu para dokter gigi di puskesmas atau klinik untuk mendeteksi tumbuh kembang anak dengan cepat dan akurat.

Edukasi Penting: Jangan Tunggu Anak Sakit Gigi

Selain memaparkan risetnya, Prof Sindy memberikan panduan praktis bagi para ibu. Beliau menekankan bahwa masalah gigi berlubang pada anak dipengaruhi oleh empat faktor utama: kualitas gigi, lingkungan, keberadaan mikroorganisme, dan faktor waktu.

Salah satu penyebab utama karies pada balita adalah kebiasaan tidur sambil minum susu botol. “Kalau anak tidur malam hari sambil minum susu, itu akan menyebabkan karies di empat gigi depan yang kita sebut jenis nursing bottle syndrome. Jika susu formula saja sebenarnya tidak apa-apa, asal waktunya terputus dan segera kita bersihkan agar tidak ada kesempatan terjadi fermentasi atau mengeluarkan asam yang merusak gigi,” terang Prof Sindy.

Cegah Sejak Dalam Kandungan

Pencegahan karies ternyata sudah bisa dimulai sejak masa kehamilan. Benih gigi anak mulai terbentuk saat usia kehamilan memasuki empat bulan. Oleh karena itu, ibu hamil perlu memastikan asupan nutrisi vitamin dan mineral tercukupi dengan baik.

Prof Sindy juga mengingatkan agar orang tua rutin membawa anak ke dokter gigi minimal enam bulan sekali. “Jangan menunggu anak mengeluh sakit, karena kalau sudah sakit berarti lubangnya sudah dalam. Padahal, awal gigi berlubang itu ditandai dengan bercak putih yang hanya bisa diketahui oleh dokter gigi,” imbau Prof Sindy.

Dengan pemeriksaan rutin, masalah gigi bisa terdeteksi lebih awal dan ditangani sebelum menjadi parah. Kombinasi antara inovasi deteksi air liur dan kebiasaan perawatan gigi yang baik akan membuat tumbuh kembang si kecil lebih terpantau tanpa rasa khawatir.

Follow palembangtoday.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: unair.ac.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks