Indikator Desa Wisata Aktif: dari Kelembagaan hingga Dampak Ekonomi
SUMATERA SELATAN — Status "berkembang" tidak diberikan sembarangan. Menurut Sekretaris Disparekrafpora Lombok Barat, Muhammad Iwan, ada empat aspek utama yang menjadi penilaian. Keempatnya adalah keaktifan kelembagaan pengelola, keberadaan paket wisata yang berjalan, promosi di media sosial, serta dampak ekonomi yang dirasakan warga sekitar.
"Kenapa dikatakan berkembang, karena kelembagaannya itu masih aktif, kemudian ada paket wisatanya masih jalan, emintasnya memenuhi atau memadai, kemudian promosi di medsosnya juga aktif, lalu dampak ekonomi dari kegiatan mereka sudah terasa," kata Iwan, Senin (24/8/2026).
Masalah Utama: Regenerasi Pengelola dan Konsep Wisata
Lalu, mengapa 45 desa wisata lainnya berhenti berkembang? Iwan menyebut dua persoalan utama. Pertama, keterbatasan sumber daya manusia (SDM) pengelola yang membuat regenerasi tidak berjalan. Kedua, belum adanya konsep atau ciri khas wisata yang kuat di masing-masing desa.
"Desa wisata tapi sumber dayanya sudah tidak ada di situ. Nah, ini saya rasa regenerasinya perlu ditingkatkan," ujarnya.
Upaya Revitalisasi dan Ajang Penghargaan
Disparekrafpora Lombok Barat tidak tinggal diam. Mereka terus mendorong 45 desa tersebut agar aktif kembali melalui pelatihan peningkatan kapasitas SDM dan kerja sama dengan pihak swasta. "Kami selalu dorong mereka supaya bisa lebih eksis lagi melalui pelatihan-pelatihan, bisa kerja sama dengan pihak swasta," kata Iwan.
Sayangnya, tidak ada satu pun desa wisata dari Lombok Barat yang meraih penghargaan Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2026. Padahal, di tahun-tahun sebelumnya ada yang mewakili daerah ini. "Untuk ADWI kita belum dapat ya," ungkapnya.
Sebagai gantinya, Disparekrafpora Lombok Barat mengusulkan enam desa wisata yang masih aktif untuk mengikuti Wonderful Indonesia Award (WIA) 2026 yang digelar Kementerian Pariwisata. Keenam desa tersebut adalah Desa Sedau, Desa Lembar Selatan, Desa Kuripan Selatan, Desa Lebah Sempage, Desa Sesaot, dan Desa Senggigi. Saat ini, proses kurasi sedang berjalan.
Rekomendasi untuk Wisatawan
Bagi traveler yang ingin merasakan pengalaman desa wisata yang terkelola dengan baik di Lombok Barat, enam desa yang diusulkan ke WIA 2026 adalah pilihan paling aman. Desa Senggigi, misalnya, sudah dikenal luas sebagai kawasan wisata pantai ikonik. Sementara itu, Desa Sesaot menawarkan wisata alam hutan pinus yang sejuk.
Untuk desa-desa lainnya, sebaiknya lakukan riset singkat atau hubungi Disparekrafpora Lombok Barat untuk memastikan kondisi terkini sebelum berkunjung. Informasi terbaru mengenai status pengelolaan dan paket wisata dapat dikonfirmasi langsung ke dinas setempat.