SUMATERA SELATAN — Desa yang dikenal sebagai sentra varietas unggul Kelapa Bojong Bulat ini tak lagi hanya menjual buahnya. Melalui pendekatan Coconut Integrated System (CIS), limbah sabut dan tempurung kelapa yang tadinya terbuang kini disulap menjadi cocopeat, cocofiber, hingga suvenir. Pengolahan ini menjadi atraksi wisata edukasi yang interaktif dan ramah lingkungan.
Daya Tarik Utama: Belajar Mengolah Limbah Jadi Produk Ekonomis
Wisatawan diajak melihat langsung proses pencacahan sabut kelapa menggunakan mesin yang dihibahkan STTKD. Aktivitas ini bukan sekadar demonstrasi, melainkan pengalaman langsung yang bisa diikuti semua usia. Pengunjung bisa belajar bagaimana limbah pertanian diubah menjadi produk bernilai ekonomi.
Ada tiga paket wisata yang sudah disiapkan dan siap dijual. Paket pertama adalah Wisata Edukasi VCO, yang fokus pada proses pembuatan Virgin Coconut Oil. Paket kedua adalah Eco-Tourism Zero-Waste, yang menekankan pengolahan limbah. Paket ketiga adalah Outbound/Keluarga, yang dirancang untuk liburan seru sambil belajar.
Aktivitas yang Bisa Dilakukan
- Mengikuti sesi praktik pengolahan sabut kelapa menjadi cocopeat dan cocofiber.
- Belajar proses produksi Virgin Coconut Oil (VCO) dari kelapa Bojong Bulat.
- Membeli suvenir khas desa yang terbuat dari tempurung kelapa.
- Mengikuti program outbound dan permainan keluarga di area persawahan.
Cara Menuju Lokasi
Desa Wisata Bojong berada di Kecamatan Panjatan, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta. Lokasinya relatif dekat dengan Bandara YIA, menjadikannya pilihan tepat untuk transit trip sebelum atau sesudah penerbangan. Dari pusat Kota Yogyakarta, perjalanan memakan waktu sekitar satu jam berkendara. Wisatawan bisa menggunakan kendaraan pribadi atau taksi daring menuju desa ini.
Kesiapan Menyambut Wisatawan Asing
Untuk menarik pengunjung mancanegara, warga setempat yang tergabung dalam Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) telah dibekali keterampilan khusus. Mereka mendapat pelatihan kepemanduan wisata dan pemasaran digital bilingual dari para akademisi STTKD. Tersedia pula buku saku panduan tur dalam Bahasa Indonesia dan Inggris sebagai pegangan pemandu lokal.
Ketua Tim PkM BIMA STTKD, Yune Andryani Pinem, menegaskan program ini dirancang untuk meningkatkan kapasitas sumber daya manusia desa. "Melalui pendanaan BIMA 2026 ini, STTKD berkomitmen mendukung pengembangan kawasan YIA Aerotropolis dari hulu ke hilir. Selain mentransfer teknologi mesin pengolah limbah kelapa, kami membekali warga dengan keterampilan pembuatan paket wisata, pemanduan wisata, dan pemasaran digital bilingual agar Desa Bojong siap menyambut wisatawan domestik maupun mancanegara secara mandiri," ujarnya dalam siaran pers yang diterima Harian Jogja.
Tips Berkunjung dan Informasi Praktis
Waktu terbaik berkunjung adalah pagi hari agar bisa mengikuti seluruh rangkaian aktivitas edukasi dengan nyaman. Karena ini adalah desa wisata yang baru berkembang, wisatawan disarankan menghubungi pengelola Pokdarwis terlebih dahulu untuk reservasi paket wisata. Informasi terkini mengenai tarif masuk dan jadwal kunjungan dapat dikonfirmasi melalui akun Instagram resmi Desa Wisata Bojong yang kini dikelola pemuda setempat.
Dengan durasi kunjungan ideal setengah hari, Desa Wisata Bojong menawarkan pengalaman wisata yang berbeda—menggabungkan edukasi lingkungan, kearifan lokal, dan semangat kemandirian ekonomi. Destinasi ini menjadi bukti bahwa desa penyangga bandara bisa tumbuh menjadi tujuan wisata berkelanjutan yang patut diperhitungkan.