SUMATERA SELATAN — SAKA tidak sekadar menjalankan rutinitas eksplorasi. Wilayah kerja seluas 1.555 km² yang membentang dari area darat hingga lepas pantai ini diyakini menyimpan potensi besar. Keyakinan itu bukan tanpa dasar—struktur geologinya nyambung dengan Lapangan Manpatu yang sudah berproduksi dan dikelola PHM.
"WK Pekawai merupakan salah satu aset eksplorasi strategis SAKA yang memiliki prospek cukup menjanjikan. Melalui berbagai kegiatan eksplorasi yang dilakukan secara bertahap dan terukur, kami berupaya memaksimalkan potensi migas di wilayah kerja ini," ujar Fuji Koesumadewi, Direktur Eksplorasi dan Pengembangan SAKA, Jumat (31/7/2026).
Mengapa Prospek Ini Dianggap Menjanjikan?
Sebanyak 10-24% struktur Lapangan Manpatu ternyata berada di dalam wilayah WK Pekawai. Artinya, hidrokarbon yang sudah terbukti di lapangan tetangga itu kemungkinan besar menerus hingga ke area kerja SAKA. Posisinya juga strategis—diapit oleh lapangan produktif lain seperti E. Mandu dan Jempang Metulang.
Sejak 2022, SAKA menggandeng PHM untuk mematangkan dua prospek utama yang sudah diidentifikasi: Prospek Saka Manpatu (SM)-1 dan Prospek Hanna, keduanya di area lepas pantai. Sinergi antar-entity Pertamina ini kemudian diperkuat dengan perpanjangan izin eksplorasi hingga 15 Mei 2028.
Rencana Pengeboran dan Target Kedalaman
Pengeboran sumur appraisal SM-1 dengan target kedalaman sekitar 12.000 kaki sudah mendapat restu dari PGN pada awal 2026. Sumur ini tidak hanya untuk membuktikan adanya cadangan, tetapi juga menjadi pintu masuk skema unitisasi dengan PHM—model bagi hasil yang umum dipakai ketika satu lapangan melintasi dua wilayah kerja.
"Rencana pengeboran sumur eksplorasi menjadi salah satu tonggak penting untuk membuktikan potensi sumber daya yang ada sekaligus membuka peluang pengembangan lebih lanjut," tambah Fuji.
Langkah Paralel di Area Darat
Sambil menunggu jadwal pengeboran lepas pantai, SAKA juga menggarap survei geologi dan geokimia di area darat. Kegiatan ini bagian dari studi geologi dan geofisika (G&G) yang ditargetkan tuntas tahun ini. Hasil survei akan menjadi dasar untuk memetakan potensi tambahan di luar dua prospek yang sudah ada.
WK Pekawai sendiri dikelola SAKA melalui anak usahanya, PT Saka Energi Sepinggan, sejak 16 Mei 2018 dengan skema gross split. Skema ini membuat SAKA menanggung risiko eksplorasi lebih besar, tapi berpotensi mendapat bagi hasil lebih tinggi jika menemukan cadangan dalam jumlah signifikan.
Keberhasilan pengeboran tahun ini akan menentukan langkah berikutnya. Jika sumur SM-1 membuktikan adanya hidrokarbon komersial, WK Pekawai bisa segera naik kelas dari sekadar aset eksplorasi menjadi calon lapangan produksi baru—tambahan pasokan di tengah upaya pemerintah mengejar target lifting migas nasional.