SUMATERA SELATAN — Fenomena childfree, atau keputusan untuk tidak memiliki anak, kini menjadi topik hangat di kalangan milenial dan Gen Z. Pilihan hidup ini berjalan beriringan dengan data penurunan angka kelahiran di Indonesia, menandakan adanya pergeseran cara pandang generasi sekarang terhadap pernikahan dan keluarga.
Psikolog Wendy Said, M.Psi., C.Ht., menyebutkan bahwa keputusan ini tidak muncul tanpa alasan. Banyak pasangan muda, terutama di kota-kota besar, mulai memikirkan masa depan secara lebih detail sebelum memutuskan untuk membesarkan anak.
Faktor Finansial dan Biaya Hidup yang Kian Tinggi
Salah satu pertimbangan terbesar yang membuat pasangan muda ragu adalah masalah keuangan. Biaya pendidikan, kesehatan, dan kebutuhan sehari-hari anak di perkotaan terus meningkat dari tahun ke tahun.
Pasangan kini cenderung lebih realistis dalam menghitung kemampuan ekonomi mereka. Mereka ingin memastikan buah hati nantinya bisa tumbuh dengan kualitas hidup yang baik, bukan sekadar bisa memenuhi kebutuhan dasar.
Prioritas pada Karier dan Pengembangan Diri
Di usia 20-an hingga awal 30-an, banyak individu yang sedang fokus membangun karier atau mengejar pendidikan lebih tinggi. Waktu dan energi yang dibutuhkan untuk merawat anak dianggap akan mengganggu fokus tersebut.
Pasangan muda modern juga memiliki keinginan kuat untuk mengeksplorasi minat dan hobi. Mereka ingin mencapai target pribadi tertentu sebelum akhirnya memutuskan untuk berkeluarga secara utuh.
Kesiapan Mental dan Emosional yang Lebih Matang
Wendy Said menjelaskan bahwa memiliki anak membutuhkan kesiapan mental yang besar. Mengasuh anak bukan hanya soal memberi makan, tetapi juga tentang tanggung jawab membentuk karakter dan masa depan manusia lain.
Banyak pasangan yang sadar bahwa mereka belum siap secara emosional untuk menghadapi tekanan pengasuhan. Mereka memilih untuk menunggu hingga benar-benar siap secara psikologis daripada menyesal di kemudian hari.
Pengaruh Lingkungan dan Pergaulan Sosial
Tinggal di lingkungan perkotaan dengan komunitas yang beragam juga memengaruhi keputusan ini. Paparan terhadap gaya hidup yang berbeda membuat pasangan muda menyadari bahwa memiliki anak bukanlah satu-satunya jalan untuk mencapai kebahagiaan.
Dukungan dari pasangan dan keluarga besar juga menjadi faktor penting. Keputusan untuk tidak memiliki anak akan terasa lebih ringan jika kedua belah pihak saling memahami dan mendukung.
Kapan Keputusan Ini Perlu Dikonsultasikan ke Ahli?
Jika Anda dan pasangan merasa ragu atau cemas berlebihan soal masa depan pengasuhan, tidak ada salahnya berkonsultasi dengan psikolog. Konseling pranikah atau konseling keluarga bisa membantu menjernihkan pikiran.
Namun, perlu diingat bahwa keputusan untuk memiliki anak atau tidak adalah hak prerogatif setiap pasangan. Yang terpenting adalah keputusan tersebut diambil dengan penuh kesadaran, tanpa paksaan dari pihak mana pun, dan siap dijalani dengan konsekuensinya.
Pada akhirnya, tren ini mengajarkan bahwa perencanaan keluarga di era modern tidak lagi sekadar soal "kapan punya anak", melainkan "kapan siap punya anak". Keputusan yang matang akan melahirkan keluarga yang lebih bahagia dan harmonis, apa pun pilihannya.