PALEMBANG — Luas lahan yang terbakar di Sumatera Selatan tercatat menyusut drastis dari 1.926 hektare pada Januari-Juli 2026 menjadi sekitar 200 hektare saat ini. Angka itu disampaikan Gubernur Sumsel Herman Deru langsung kepada Presiden Prabowo Subianto dalam rapat koordinasi pengendalian karhutla di Palembang, Senin (24/8/2026).
Atas dasar laporan tersebut, Presiden Prabowo menilai lima armada water bombing yang sudah beroperasi masih sanggup menjinakkan titik api yang tersisa. Satu unit tambahan yang semula direncanakan dikirim akhirnya dibatalkan.
Perhitungan Kapasitas Pemadaman dari Udara
Prabowo memaparkan perhitungan teknis di balik keputusan itu. Satu helikopter water bombing mampu mengangkut sekitar 4 ton air dalam sekali operasi dan bisa terbang hingga 60 sorti per hari.
"Satu helikopter water bombing bisa membawa 4 ton air, dikali 5 helikopter yang mampu melakukan 60 sorti. Artinya, helikopter bisa membawa 1.200 ton per hari. Jadi dalam tiga hari bisa ditangani karhutla 200 hektare tersebut," ujar Prabowo dalam rapat tersebut.
Bantuan Darat: 100 Motor Trail dan 500 Mesin Pompa
Meski menghentikan tambahan armada udara, Presiden menyetujui hampir seluruh permintaan peralatan darat dari Pemprov Sumsel. Permintaan awal 50 unit motor trail mendapat respons lebih besar dari kepala negara.
"Kalau meminta 50, kita kirim 100 motor trail," kata Prabowo. Ratusan motor trail itu nantinya dimodifikasi dengan tangki air agar bisa menjangkau titik api di area yang sulit dilalui kendaraan pemadam berukuran besar.
Selain motor trail, pemerintah pusat juga mengirimkan 500 unit mesin pompa dan selang untuk mempercepat pembasahan lahan gambut yang rawan api membara di bawah permukaan.
20 Ekskavator untuk Penyekatan Lahan
Kepala Pelaksana BPBD Sumsel M Iqbal Alisyahbana menyampaikan kebutuhan alat berat untuk memperkuat upaya pencegahan. Pemprov Sumsel meminta 20 unit ekskavator yang akan difungsikan untuk membuat kanal, embung, dan melakukan penyekatan lahan agar api tidak mudah meluas ke area lain.
Permintaan tersebut turut disetujui dalam rapat yang sama. Keberadaan kanal dinilai krusial untuk membasahi lahan gambut yang menjadi karakteristik sebagian besar wilayah Sumsel.
Dengan tambahan peralatan darat ini, strategi penanganan karhutla di Sumsel bergeser dari sekadar pemadaman udara ke penguatan kapasitas tim di lapangan. Kombinasi water bombing untuk titik api besar dan motor trail untuk area terpencil diharapkan mampu menuntaskan sisa lahan terbakar dalam waktu dekat.