Pencarian

Partisipasi Kerja Perempuan Tertahan di 55%, Potensi Ekonomi RI Menganggur

Kamis, 15 Oktober 2026 • 15:36:02 WIB
Partisipasi Kerja Perempuan Tertahan di 55%, Potensi Ekonomi RI Menganggur
Partisipasi kerja perempuan Indonesia stagnan di angka 55 persen selama dua dekade terakhir.

SUMATERA SELATAN — Partisipasi kerja perempuan Indonesia stagnan di angka 55% selama dua dekade terakhir, menurut laporan UN Women. Kesenjangan dengan tingkat pendidikan yang sudah setara 94% membuat potensi sumber daya manusia berpendidikan tinggi terbuang dari pasar kerja formal. Kondisi ini dinilai menciptakan inefisiensi ekonomi yang besar bagi Indonesia.

Head of Programmes UN Women Indonesia Dwi Yuliawati mengungkapkan bahwa laki-laki dan perempuan Indonesia kini punya capaian pendidikan yang hampir seimbang. Namun, kesetaraan itu tidak berbanding lurus dengan penyerapan tenaga kerja di sektor formal.

"Meskipun tingkat pendidikan perempuan dan laki-laki sudah setara hingga 94 persen, partisipasi kerja perempuan selama 20 tahun terakhir tetap tertahan di 55 persen," ujar Dwi dalam diskusi Women's Empowerment Principles (WEPs) Awards di Jakarta, Kamis (15/10).

Beban Kerja Rumah Tangga Jadi Penghambat Utama

Dwi menyebut hambatan utama penyerapan tenaga kerja perempuan dipicu oleh tingginya beban pekerjaan perawatan rumah tangga alias unpaid care work. Data yang dipaparkan menunjukkan perempuan di Indonesia rata-rata menghabiskan waktu dua setengah jam lebih lama setiap hari untuk urusan domestik dibandingkan laki-laki.

"Pekerjaan perawatan ini yang membuat perempuan menyatakan tidak siap bekerja secara statistik, meskipun secara tingkat pendidikan mereka sangat siap," tegas Dwi.

Alhasil, banyak perempuan berpendidikan tinggi yang terpaksa keluar dari pasar kerja resmi. Peningkatan produktivitas nasional pun berjalan lambat karena kontribusi kelompok ini tidak terserap optimal.

Efek Domino ke Pertumbuhan Ekonomi Nasional

Stagnasi partisipasi kerja perempuan berisiko menghambat akselerasi pertumbuhan ekonomi nasional. Dwi menilai kesenjangan ini membuat potensi kontribusi sumber daya manusia berpendidikan tinggi di pasar kerja formal terbuang percuma.

Dampak lanjutannya adalah inefisiensi ekonomi yang besar. Integrasi pekerja perempuan ke sektor formal disebut menjadi kunci penting untuk mendongkrak produk domestik bruto (PDB) nasional secara berkelanjutan.

Dunia Usaha Diminta Buka Fasilitas Pengasuhan Anak

Untuk mengoptimalkan potensi ekonomi makro tersebut, dunia usaha didorong menciptakan iklim kerja yang inklusif. Dua hal yang disorot adalah penyediaan fasilitas pengasuhan anak (daycare) dan fleksibilitas kerja.

Langkah itu dinilai bisa menarik lebih banyak perempuan berpendidikan tinggi kembali ke pasar kerja formal. Tanpa intervensi dari sisi perusahaan, angka partisipasi kerja perempuan berpotensi tetap tertahan di 55% dalam beberapa tahun ke depan.

Follow palembangtoday.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: katadata.co.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks