PALEMBANG — Rantai pengelolaan sampah di Palembang tak lagi berhenti di Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Pemkot tengah merancang skema besar yang menyatukan peran warga memilah sampah dari dapur rumah hingga konversi sampah menjadi energi listrik di kawasan Keramasan.
Asisten II Setda Kota Palembang Isnaini Madani menyebut kegiatan ini menjadi pijakan penting untuk membangun budaya hidup bersih sekaligus mempercepat target satu kelurahan satu bank sampah. Saat ini, jaringan bank sampah di kota tersebut tengah didorong untuk aktif mencatat nasabah secara digital melalui platform SILABA.
Target 1.000 Ton Sampah per Hari di PSEL Keramasan
Fasilitas PSEL di Keramasan dirancang menggunakan teknologi Moving Grate Incinerator. Sampah yang tak lagi bisa dimanfaatkan akan diubah menjadi listrik, mengurangi beban TPA secara signifikan.
“Sistem ini memastikan setiap bank sampah memiliki kepengurusan aktif, pencatatan nasabah yang rapi, serta memberi dampak ekonomi langsung bagi masyarakat lewat konsep ekonomi sirkular,” ujar Isnaini di hadapan para camat dan lurah.
Ekonomi Sirkular Berbasis Digital
Di tingkat hulu, warga didorong memilah sampah dari sumbernya. Data setoran sampah di bank-bank sampah kelurahan akan terintegrasi dalam SILABA, sehingga nilai ekonomi yang kembali ke warga tercatat rapi dan transparan.
Program ini tidak berjalan sendiri. Pemkot menggandeng Tim Penggerak PKK, Karang Taruna, lembaga pendidikan, dunia usaha, hingga komunitas lingkungan untuk menggerakkan perubahan perilaku di tingkat RT/RW.
Perwali Nomor 17 Tahun 2026 Jadi Payung Hukum
Peraturan Wali Kota (Perwali) Nomor 17 Tahun 2026 tentang Pengelolaan Sampah Rumah Tangga menjadi dasar instruksi bagi camat dan lurah untuk menjadi penggerak utama di wilayah masing-masing. Regulasi ini menekankan perubahan perilaku agar kebiasaan memilah sampah dimulai dari rumah, bukan menunggu petugas kebersihan turun ke lapangan.
“Melalui integrasi SILABA dan PSEL Keramasan, Pemko Palembang optimistis dapat mewujudkan sistem pengelolaan sampah yang mandiri, produktif, dan berkelanjutan, dari rumah tangga hingga menjadi sumber energi bagi kota,” kata Isnaini.
Dengan skema ini, bank sampah dan PSEL bukan dua program terpisah. Hulu berfokus pada pengurangan sampah berbasis masyarakat, sementara hilir mengoptimalkan pemanfaatan akhir sampah menjadi energi listrik berskala kota.