Pencarian

Konflik Timur Tengah 2026 dan Dampaknya ke Sektor Pariwisata Indonesia, Thailand, hingga Kamboja

Senin, 03 Agustus 2026 • 14:33:39 WIB
Konflik Timur Tengah 2026 dan Dampaknya ke Sektor Pariwisata Indonesia, Thailand, hingga Kamboja
Suasana Dermaga Surakul, akses menuju Pulau Khao Phing Kan di Thailand Selatan, tampak sepi akibat penurunan kunjungan wisatawan.

SUMATERA SELATAN — Harga Tiket Melonjak, Perjalanan Jarak Jauh Jadi Korban

Serangan udara Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran sejak Februari 2026 menciptakan efek domino pada industri penerbangan global. Dikutip dari laporan The New York Times pada Sabtu (1/8/2026), harga tiket pesawat yang menghubungkan Eropa dan Asia melonjak tajam, bahkan pada sejumlah rute hampir mencapai dua kali lipat dari tarif normal.

Gangguan operasional di hub penerbangan utama Timur Tengah seperti Dubai dan Doha menjadi biang keladi utama. Kedua kota tersebut selama ini menjadi titik transit favorit bagi wisatawan Eropa yang hendak menuju Asia Tenggara. Dengan rute yang semakin rumit dan biaya yang membengkak, minat liburan jarak jauh pun menurun drastis.

Kunjungan Wisman ke Indonesia Turun 6 Persen

Indonesia menjadi salah satu negara yang merasakan dampak paling nyata. Data kunjungan wisatawan mancanegara menunjukkan tren penurunan yang jelas. Pada Januari 2026, sebelum konflik memanas, total kunjungan mencapai 1.118.420 orang. Angka ini turun menjadi 1.088.166 wisatawan pada periode Maret-April 2026, atau menyusut sekitar 6 persen.

Penurunan ini menjadi sinyal waspada bagi pelaku industri pariwisata domestik, terutama di destinasi yang selama ini mengandalkan pasar Eropa seperti Bali, Yogyakarta, dan Labuan Bajo. Meski angka ini belum menunjukkan krisis, tren negatif yang berlanjut bisa mengganggu target kunjungan wisman nasional. Dampak Berantai di Thailand dan Kamboja

Thailand yang sangat bergantung pada sektor pariwisata juga menerima pukulan telak. Di Provinsi Phang Nga, Thailand Selatan, tingkat pemesanan hotel turun hampir setengahnya sejak perang pecah. Suasana di Dermaga Surakul, akses utama menuju Pulau Khao Phing Kan yang terkenal itu, kini jauh lebih sepi dari biasanya.

Di Kamboja, dampaknya terasa hingga ke sektor informal. Lam Lan (25), seorang koki di Bandara Internasional Siem Reap Angkor, mengalami pengurangan hari kerja dari 30 hari menjadi 20 hari per bulan. Pendapatannya pun merosot dari 250 dollar AS menjadi 150 dollar AS. Dengan anak kedua yang segera lahir, kondisi ini membuatnya kesulitan memenuhi kebutuhan keluarga.

Apa yang Bisa Dilakukan Traveler?

Bagi traveler Indonesia yang berencana liburan ke Eropa atau Asia Tenggara, situasi ini perlu diantisipasi. Pertama, bandingkan harga tiket dari berbagai maskapai dan hub alternatif. Kedua, pertimbangkan asuransi perjalanan yang mencakup pembatalan akibat konflik geopolitik. Ketiga, fleksibilitas tanggal keberangkatan bisa membantu mendapatkan harga lebih rasional.

Untuk destinasi domestik, penurunan wisman Eropa justru bisa menjadi momentum menikmati destinasi favorit tanpa keramaian. Namun, pastikan untuk selalu memantau informasi resmi dari maskapai dan dinas pariwisata setempat sebelum berangkat, karena situasi geopolitik dapat berubah sewaktu-waktu.

Follow palembangtoday.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: travel.kompas.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks